Disponsori USAID-UKAid Iklan Kondom di Kenya Ajarkan Selingkuh
Sebuah iklan kondom di televisi Kenya
dihentikan penayangannya menyusul banyak protes masuk dari tokoh-tokoh
agama, kata pejabat kesehatan Peter Cherutich dilansir BBC Rabu (20/3/2013).
Lebih dari 80% penduduk Kenya beragama Kristen dan Islam merupakan agama terbesar kedua di negara itu.[hidayatullah/UGT/www.al-khilafah.org]
Menurut para tokoh agama Islam dan
Kristen di Kenya, iklan yang disponsori pemerintah itu justru
mengajarkan perselingkuhan atau perzinahan dan bukannya mengajarkan seks
aman guna mencegah penularan virus HIV/Aids yang marak di negeri Afrika
itu.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 1,6 juta dari 41,6 juta populasi Kenya mengidap HIV.
Dalam iklan tersebut digambarkan dialog
antara 2 orang perempuan dewasa yang berstatus menikah di pasar.
Perempuan A (berbaju putih) menanyakan kepada perempuan B (berbaju merah
dan bertudung kepala) tentang hubungannya dengan suaminya. Perempuan B
mengatakan bahwa suaminya belakangan sering mabuk-mabukan dan
menghabiskan waktunya di bar. “Suami saya mungkin tidak ada (di rumah)
tapi bukan berarti saya tidak bahagia,” kata B. “Mbungua cukup dan kami
sudah mengenal satu sama lain sejak lama. Kami saling mencintai,”
imbuhnya, yang kemudian terlihat gambar seorang pria pedagang buah tidak
jauh dari tempat keduanya berdiri. A juga terlihat melirik pria
tersebut, yang sedang melayani seorang pembeli wanita. Adengan itu
menyiratkan bahwa B dan pria pedagang buah adalah teman selingkuh.
Selanjutnya, A menasehati B agar menggunakan kondom sebagai perlindungan
dalam berhubungan seks dengan pria-pria yang dicintainya untuk
melindungi keluarganya. Sejenak kemudian terlihat seorang anak kecil
berpakaian sekolah berlari menuju B dan memeluknya.
Cherutich, wakil direktur program pengendalian Aids dan penyakit menular seksual Kenya, kepada BBC mengatakan bahwa iklan itu dibuat berdasarkan fakta yang ada dalam masyarakat.
Dia menjelaskan, berdasarkan survei
20%-30% pasangan menikah di Kenya memiliki pasangan lain dalam
berhubungan seks. Dan sebagian besar dari mereka tidak menggunakan
kondom.
Lembaga urusan agama Islam di negara
itu, Dewan Imam dan Dai Kenya (CIPK), mengecam iklan satu menit yang
ditayangkan di berbagai stasiun televisi tersebut.
“Iklan itu menggambarkan negara ini
sebagai Sodom dan Gomorra, dan bukan negara yang menghargai lembaga
perkawinan dan keluarga,” kata Syaikh Muhammad Khalifa sekretaris CIPK
kepada koran Kenya Business Daily.
Wartawan BBC di Nairobi melaporkan, banyak orang Kenya yang mendukung para tokoh agama menentang iklan kondom tersebut.
Iklan itu merupakan bagian dari kampanye
penanggulangan HIV/Aids yang sudah bertahun-tahun dilakukan di Kenya.
Dalam iklan terpampang nama sponsor yang terdiri dari Kementerian
Kesehatan, organisasi afiliasi pemerintah Amerika Serikat USAID dan
pemerintah Inggris UKAid, lapor BBC.


Tidak ada komentar