Erdogan Memberikan Pesan Penting pada Obama

Kepada para wartawan yang menyertainya dalam perjalanan menuju Washington DC untuk kunjungan kenegaraan, Perdana Menteri Turki Recep Tayyep Erdogan mengemukakan beberapa hal penting yang akan menjadi bahan perbincangannya dengan Presiden Amerika Barack Obama.
Dikatakan oleh Erdogan, pihaknya akan menyampaikan penolakan Turki atas berbagai macam tindakan perang di Afganistan. Dikatakannya, di Afganistan, Turki memiliki dua peran tenting yang tiada tiganya. Dua peran tersebut meliputi pemberian bekal latihan militer Afganistan oleh militer Turki, serta mendirikan berbagai proyek investasi di negara itu, yang hingga saat ini besarnya mencapai 50 juta dolar.
Terkait masalah nuklir Iran, Erdogan mengatakan jika Turki berupaya untuk menjadi penengah antara Iran dan Amerika, serta negara-negara Barat, untuk meredam bara kecurigaan dan perseteruan antara kedua belah pihak terkait proyek nuklir Iran. Turki menawarkan untuk menjadi tempat pengaya uranium bagi Iran, dan oleh Iran, yang nanti hasilnya pun dapat langsung disalurkan ke Iran.
Permasalah Partai Buruh Kurdistan (PBK) juga akan menjadi salah satu topik penting pembicaraan Erdogan dengan Obama. Tahun 2007 silam, pemerintahan Amerika pernah menyatakan jika PBK adalah musuh bersama karena kerap melancarkan aksi-aksi teror. Di Turki sendiri, PBK menjadi gerakan separatis dan musuh utama negara. Namun, beberapa minggu silam, di hadapan parlemen Turki, secara mengejutkan Erdogan menawarkan inisiatif keterbukaan, dialog, persamaan hak, dan demokratisasi wilayah Kurdistan. Inisiatif itu dipandag Erdogan sebagai kunci utama penyelesaian masalah Turki-Kurdi.
Selain itu, masalah Palestina juga akan menjadi topik yang tak kalah penting. Erdogan menyatakan, Turki saat ini menjadi harapan baru masyarakat Islam dan internasional untuk membantu menyelesaikan permasalahan Palestina, ketika mereka telah kehilangan harapan terhadap dunia Arab, "ibu kandung" Palestina yang terlalu lamban dalam bersikap.
Kunjungan Turki ke Amerika ini merupakan kunjungan balasan setelah Amerika terlebih dahulu mengunjungi Turki bulan April silam. Saat itu, Turki menjadi negara Muslim pertama yang dikunjungi oleh Presiden Obama.
Kunjungan ini juga akan menjadi salah satu babak dari rangkaian peran dan gerak politik luar negeri Turki yang saat ini tengah memanuver dan menanjak dengan sangat cepat. Gerak tersebut sempat menjadi kekhawatiran baik di negara-negara Eropa atau pun Arab, karena ditakutkan akan kembali menghantarkan Turki menjadi kekuatan adiluhung seperti pada masa Ottoman dulu. (A. Ginandjar Sya'ban/db/srq/ermslm)
Dikatakan oleh Erdogan, pihaknya akan menyampaikan penolakan Turki atas berbagai macam tindakan perang di Afganistan. Dikatakannya, di Afganistan, Turki memiliki dua peran tenting yang tiada tiganya. Dua peran tersebut meliputi pemberian bekal latihan militer Afganistan oleh militer Turki, serta mendirikan berbagai proyek investasi di negara itu, yang hingga saat ini besarnya mencapai 50 juta dolar.
Terkait masalah nuklir Iran, Erdogan mengatakan jika Turki berupaya untuk menjadi penengah antara Iran dan Amerika, serta negara-negara Barat, untuk meredam bara kecurigaan dan perseteruan antara kedua belah pihak terkait proyek nuklir Iran. Turki menawarkan untuk menjadi tempat pengaya uranium bagi Iran, dan oleh Iran, yang nanti hasilnya pun dapat langsung disalurkan ke Iran.
Permasalah Partai Buruh Kurdistan (PBK) juga akan menjadi salah satu topik penting pembicaraan Erdogan dengan Obama. Tahun 2007 silam, pemerintahan Amerika pernah menyatakan jika PBK adalah musuh bersama karena kerap melancarkan aksi-aksi teror. Di Turki sendiri, PBK menjadi gerakan separatis dan musuh utama negara. Namun, beberapa minggu silam, di hadapan parlemen Turki, secara mengejutkan Erdogan menawarkan inisiatif keterbukaan, dialog, persamaan hak, dan demokratisasi wilayah Kurdistan. Inisiatif itu dipandag Erdogan sebagai kunci utama penyelesaian masalah Turki-Kurdi.
Selain itu, masalah Palestina juga akan menjadi topik yang tak kalah penting. Erdogan menyatakan, Turki saat ini menjadi harapan baru masyarakat Islam dan internasional untuk membantu menyelesaikan permasalahan Palestina, ketika mereka telah kehilangan harapan terhadap dunia Arab, "ibu kandung" Palestina yang terlalu lamban dalam bersikap.
Kunjungan Turki ke Amerika ini merupakan kunjungan balasan setelah Amerika terlebih dahulu mengunjungi Turki bulan April silam. Saat itu, Turki menjadi negara Muslim pertama yang dikunjungi oleh Presiden Obama.
Kunjungan ini juga akan menjadi salah satu babak dari rangkaian peran dan gerak politik luar negeri Turki yang saat ini tengah memanuver dan menanjak dengan sangat cepat. Gerak tersebut sempat menjadi kekhawatiran baik di negara-negara Eropa atau pun Arab, karena ditakutkan akan kembali menghantarkan Turki menjadi kekuatan adiluhung seperti pada masa Ottoman dulu. (A. Ginandjar Sya'ban/db/srq/ermslm)

Tidak ada komentar