Jadilah Pemimpin yang di Cintai
Oleh: Harits Abu Ulya
Sejak awal bulan Oktober 2011 rakyat Indonesia disuguhi hiruk pikuknya isu reshuffle kabinet pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.Cukup banyak yang memperhatikan, tapi lain soal jika ditanya apakah perhatian mereka itu artinya optimisme atau sebaliknya pesimis bahkan skeptis.Saya ingin tulis satu sampel, mungkin bisa mewakili suara dan pandangan ribuan rakyat yang ada di negeri ini.
Sabtu siang (15/10) saya landing di bandara Sukarno-Hatta Jakarta, kemudian bergegas pesan taxi karena satu jam berikutnya harus penuhi undangan di kawasan Kelapa Gading. Tidak berapa lama saya meluncur menyusuri jalan tol yang agak lengang, di tengah perjalanan rasanya ada yang menarik dan patut harus saya simak baik-baik “celotehan” dari sopir taxi (saya perhatikan di id cardnya tertulis “Marjoni”).
Dia nyletuk, “Menurut bapak bagaimana dengan reshuffle kabinet?”, dalam batin saya rasanya sangat surprise mendapat pertanyaan seperti itu dari pak Marjoni. Betapa tidak, sudah sekian pekan saya mungkin termasuk orang yang rajin mengikuti (monitoring) “drama” babak demi babak gonjang-ganjingnya pemerintahan SBY. Kemudian saya coba menjawab dari apa yang tampak di media TV, “Saya lihat, pemimpin kita lebih mementingkan “selebrasi” daripada komitmen dan isi sebagai pemimpin,” seketika pak Marjoni menimpali, “betul itu pak!, dulu juga demikian..macam audisi saja, fit and propertest segala tapi hasilnya apa?..rakyat sudah muak dengan drama politik seperti ini, menurut bapak bagaimana?”. Saya mencoba jawab, “pemimpin kita ini kurang tegas, di posisi enjury time pun masih juga mengakomodir politik kepentingan dan itu tampak dari indikasi diundangnya para pemimpin koalisi. Seharusnya ia adalah presiden yang bisa full power untuk kepentingan rakyat karena ia di pilih mayoritas rakyat. Tapi hari ini rakyat merasa cukup kecewa karena kepercayaan ini tidak diterjemahkan dalam wujud kebijakan yang benar-benar demi kepentingan rakyatnya bukan kelompok dan kroninya. Lihat saja, betapa banyak kebijakan yang tidak pro rakyat? Reshuffle itu hanya abal-abal, memalingkan rakyat dari bopengnya wajah pemerintahan SBY yang dililit persoalan skandal korupsi, dari partai yang mengusungnya hingga para menteri dan pejabat-pejabat politik dibawahnya.”
Saya merasa getir, diakhir obrolan saya dengan pak Marjoni meluncur ucapan-ucapan yang menunjukkan “ketidaksukaan” rakyat terhadap pemimpinnya. Ada kalimat pamungkas yang retoris, “lantas kalau kondisi para pemimpin negara terus begini, kepada siapa lagi kita berharap pak?”, sebuah skeptisme tidak hanya dari seorang Marjoni tapi sangat mungkin ada Marjoni-Marjoni lainya. Dan kondisi tersebut relevan dengan hasil survey akhir-akhir ini atas kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintahan SBY-Budiono yang anjlok merosot tajam.
Obrolan penumpang (saya) dan sopir taxi kali ini, kembali membawa saya terbang kebelakang mengingat kembali dan membayangkan sosok agung yang pernah ada. Seorang pemimpin yang sangat mashur selama memegang amanah kepemimpinnnya yang hanya dua setengah tahun.Tinta emas dipakai menorehkan jejak-jekak kebesaranya, hingga riwayat dan kisah itu bisa menjadi guru para penunut ilmu dan cermin kebijaksanaan bagi para pemangku kekuasaan.Ia begitu dicintai rakyatknya, begitu juga sebaliknya ia sangat mencintai rakyatnya. Rakyat selalu mendoakan kebaikan untuk dirinya, begitu juga ia selalu menabur doa dan kebijakan yang membuat rakyat makin larut dengan cintanya.
Dialah Umar bin Abdul Aziz ra, bahkan hingga wafatnya juga menorehkan kesedihan mendalam bagi rakyatnya yang ia cintai dan mereka mencintainya. Bahkan lawanpun dinaungi kesedihan karena kepergiannya. Dalam satu riwayat di ceritakan betapa Raja romawi duduk bersedih diatas tanah sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak.
Ia ditanya, “Ada apa dengan raja?”, Raja itu menjawab, “telah meninggal orang yang baik”. Mereka bertanya, “Siapa dia?”. Ia menjawab, “Umar bin Abdul Aziz”. Kemudian raja itu melanjutkan ucapannya, “menurutku seandainya ada seorang yang bisa menghidupkan orang mati sesudah Isa putra Maryam as, maka Umar bin Abdul Aziz pasti menghidupkan mereka”. Kemudian raja itu berjalan ke tengah orang-orang sambil berkata, “Aku tidak kagum dengan rahib bila ia menutup pintunya menolak dunia, hidup asketis, dan beribadah. Tetapi, yang mengherankan adalah orang yang dunia berada di kakinya, lalu ia menolaknya dan memilih kehidupan ibadah.”
Pujian dan kegaguman ini wajar karena ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin juga menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin yang patut didengar oleh pejabat-pejabat yang ada di bawahnya.Suatu hari Ia pernah mendapat pengaduan mengenai seorang pejabatnya, lalu ia menulis surat kepadanya, “Saudaraku, kuigatkan engkau tentang lamanya ahli neraka tinggal dineraka, yaitu selama-lamanya. Jangan sampai kau menjauhkan diri dari sisi Allah, sehingga hal itu menjadi penutup riwayat hidup dan terputusnya harapan.”
Ketika pejabat itu membaca surat tersebut, maka dia segera meningalkan negerinya dan menemui kepala negara ini. Lalu Umar berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu datang kemari?” Dia menjawab, “Jantungku copot karena suratmu.Aku tidak kembali menerima suatu jabatan hingga aku berjumpa dengan Allah swt..”.
Bahkan bagaimana sikap wara’ (kehati-hatian Umar Bin Abdul Aziz) begitu tampak ketika mendidik putra-putranya. Suatu ketika sampai ke telinga Umar bin Abdul Aziz bahwa anaknya membeli sebuah cincin dengan harga seribu dirham. Lalu Umar menulis surat kepadanya, “Kudengar kau membeli cincin dengan seharga seribu dirham. Bila kau terima suratku ini, maka juallah cincin itu dan kenyangkan seribu perut. Lalu belilah sebuah cincin dengan harga dua dirham, buatlah pengingatnya dari besi, dan tulislah padanya:”semoga Allah merahmati orang yang tahu diri.” (di bukukan oleh M Shidiq Al Minsyawi; Az Zuhad Mi’ah A’zhamuhum Muhammad SAW)
Ia pemimpin yang mampu menghiasi dada dan hatinya dengan mahkota tawadlu’, mengajari manusia tentang esensi keagungan dan kehormatan sebagai hamba Allah swt, dan menorehkan dalam bentuk tindakan-tindakan nyata sehingga memberikan goresan mendalam bagi yang menjadikan ia guru terbaiknya.
Sedih sekali rasanya, jika kita hari ini menyaksikan para pemimpin tak ubahnya para pemain “drama” dan opera sabun. Tarian-tarian politiknya hanya untuk menyelamatkan citra pribadi dan kepentingan kelompok dan kroninya. Kebijakan dibuat kadang bukan untuk kepentingan rakyat, tapi untuk menutupi aib demi aib mereka. Seolah mereka lupa, bahwa kepemimpinan itu adalah amanah dan bukan orang-orang yang memiliki “iman” jika tidak mensifati dirinya dengan nilai amanah. Apakah jika kita menjadi pemimpin tidak pernah terbayang, bagaimana bisa menjadi orang yang dicintai oleh rakyat yang dipimpinnya. Siang dan malam rakyat menguntai doa untuk kebaikan dirinya, dari masa ia menjabat hingga wafatnya bahkan saat di alam kuburnya. Itu semua bisa diraihnya, dengan cara cintailah rakyat dengan kebijakan dan keputusan politik yang bisa menghantarkan rakyat kepada keadilan dan kesejahteraan. Bukan malah sebaliknya, hanya keadilan dan kemakmuran untuk para pejabat dan kroninya. Kiranya tidak perlu malu untuk belajar kepada pribadi pemimpin semisal Umar bin Abdul Aziz, jika tidak maka kepemimpinannya akan menjadi perkara yang di “benci” oleh setiap orang dan bisa jadi “hard landing” diakhir kepemimpinan persis seperti pesawat yang saya tumpangi disaat mendarat dan bisa membuat shok. (wallahu a’lam/Majalah Pamong readers,17 Okt 2011)
Sejak awal bulan Oktober 2011 rakyat Indonesia disuguhi hiruk pikuknya isu reshuffle kabinet pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.Cukup banyak yang memperhatikan, tapi lain soal jika ditanya apakah perhatian mereka itu artinya optimisme atau sebaliknya pesimis bahkan skeptis.Saya ingin tulis satu sampel, mungkin bisa mewakili suara dan pandangan ribuan rakyat yang ada di negeri ini.
Sabtu siang (15/10) saya landing di bandara Sukarno-Hatta Jakarta, kemudian bergegas pesan taxi karena satu jam berikutnya harus penuhi undangan di kawasan Kelapa Gading. Tidak berapa lama saya meluncur menyusuri jalan tol yang agak lengang, di tengah perjalanan rasanya ada yang menarik dan patut harus saya simak baik-baik “celotehan” dari sopir taxi (saya perhatikan di id cardnya tertulis “Marjoni”).
Dia nyletuk, “Menurut bapak bagaimana dengan reshuffle kabinet?”, dalam batin saya rasanya sangat surprise mendapat pertanyaan seperti itu dari pak Marjoni. Betapa tidak, sudah sekian pekan saya mungkin termasuk orang yang rajin mengikuti (monitoring) “drama” babak demi babak gonjang-ganjingnya pemerintahan SBY. Kemudian saya coba menjawab dari apa yang tampak di media TV, “Saya lihat, pemimpin kita lebih mementingkan “selebrasi” daripada komitmen dan isi sebagai pemimpin,” seketika pak Marjoni menimpali, “betul itu pak!, dulu juga demikian..macam audisi saja, fit and propertest segala tapi hasilnya apa?..rakyat sudah muak dengan drama politik seperti ini, menurut bapak bagaimana?”. Saya mencoba jawab, “pemimpin kita ini kurang tegas, di posisi enjury time pun masih juga mengakomodir politik kepentingan dan itu tampak dari indikasi diundangnya para pemimpin koalisi. Seharusnya ia adalah presiden yang bisa full power untuk kepentingan rakyat karena ia di pilih mayoritas rakyat. Tapi hari ini rakyat merasa cukup kecewa karena kepercayaan ini tidak diterjemahkan dalam wujud kebijakan yang benar-benar demi kepentingan rakyatnya bukan kelompok dan kroninya. Lihat saja, betapa banyak kebijakan yang tidak pro rakyat? Reshuffle itu hanya abal-abal, memalingkan rakyat dari bopengnya wajah pemerintahan SBY yang dililit persoalan skandal korupsi, dari partai yang mengusungnya hingga para menteri dan pejabat-pejabat politik dibawahnya.”
Saya merasa getir, diakhir obrolan saya dengan pak Marjoni meluncur ucapan-ucapan yang menunjukkan “ketidaksukaan” rakyat terhadap pemimpinnya. Ada kalimat pamungkas yang retoris, “lantas kalau kondisi para pemimpin negara terus begini, kepada siapa lagi kita berharap pak?”, sebuah skeptisme tidak hanya dari seorang Marjoni tapi sangat mungkin ada Marjoni-Marjoni lainya. Dan kondisi tersebut relevan dengan hasil survey akhir-akhir ini atas kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintahan SBY-Budiono yang anjlok merosot tajam.
Obrolan penumpang (saya) dan sopir taxi kali ini, kembali membawa saya terbang kebelakang mengingat kembali dan membayangkan sosok agung yang pernah ada. Seorang pemimpin yang sangat mashur selama memegang amanah kepemimpinnnya yang hanya dua setengah tahun.Tinta emas dipakai menorehkan jejak-jekak kebesaranya, hingga riwayat dan kisah itu bisa menjadi guru para penunut ilmu dan cermin kebijaksanaan bagi para pemangku kekuasaan.Ia begitu dicintai rakyatknya, begitu juga sebaliknya ia sangat mencintai rakyatnya. Rakyat selalu mendoakan kebaikan untuk dirinya, begitu juga ia selalu menabur doa dan kebijakan yang membuat rakyat makin larut dengan cintanya.
Dialah Umar bin Abdul Aziz ra, bahkan hingga wafatnya juga menorehkan kesedihan mendalam bagi rakyatnya yang ia cintai dan mereka mencintainya. Bahkan lawanpun dinaungi kesedihan karena kepergiannya. Dalam satu riwayat di ceritakan betapa Raja romawi duduk bersedih diatas tanah sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak.
Ia ditanya, “Ada apa dengan raja?”, Raja itu menjawab, “telah meninggal orang yang baik”. Mereka bertanya, “Siapa dia?”. Ia menjawab, “Umar bin Abdul Aziz”. Kemudian raja itu melanjutkan ucapannya, “menurutku seandainya ada seorang yang bisa menghidupkan orang mati sesudah Isa putra Maryam as, maka Umar bin Abdul Aziz pasti menghidupkan mereka”. Kemudian raja itu berjalan ke tengah orang-orang sambil berkata, “Aku tidak kagum dengan rahib bila ia menutup pintunya menolak dunia, hidup asketis, dan beribadah. Tetapi, yang mengherankan adalah orang yang dunia berada di kakinya, lalu ia menolaknya dan memilih kehidupan ibadah.”
Pujian dan kegaguman ini wajar karena ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin juga menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin yang patut didengar oleh pejabat-pejabat yang ada di bawahnya.Suatu hari Ia pernah mendapat pengaduan mengenai seorang pejabatnya, lalu ia menulis surat kepadanya, “Saudaraku, kuigatkan engkau tentang lamanya ahli neraka tinggal dineraka, yaitu selama-lamanya. Jangan sampai kau menjauhkan diri dari sisi Allah, sehingga hal itu menjadi penutup riwayat hidup dan terputusnya harapan.”
Ketika pejabat itu membaca surat tersebut, maka dia segera meningalkan negerinya dan menemui kepala negara ini. Lalu Umar berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu datang kemari?” Dia menjawab, “Jantungku copot karena suratmu.Aku tidak kembali menerima suatu jabatan hingga aku berjumpa dengan Allah swt..”.
Bahkan bagaimana sikap wara’ (kehati-hatian Umar Bin Abdul Aziz) begitu tampak ketika mendidik putra-putranya. Suatu ketika sampai ke telinga Umar bin Abdul Aziz bahwa anaknya membeli sebuah cincin dengan harga seribu dirham. Lalu Umar menulis surat kepadanya, “Kudengar kau membeli cincin dengan seharga seribu dirham. Bila kau terima suratku ini, maka juallah cincin itu dan kenyangkan seribu perut. Lalu belilah sebuah cincin dengan harga dua dirham, buatlah pengingatnya dari besi, dan tulislah padanya:”semoga Allah merahmati orang yang tahu diri.” (di bukukan oleh M Shidiq Al Minsyawi; Az Zuhad Mi’ah A’zhamuhum Muhammad SAW)
Ia pemimpin yang mampu menghiasi dada dan hatinya dengan mahkota tawadlu’, mengajari manusia tentang esensi keagungan dan kehormatan sebagai hamba Allah swt, dan menorehkan dalam bentuk tindakan-tindakan nyata sehingga memberikan goresan mendalam bagi yang menjadikan ia guru terbaiknya.
Sedih sekali rasanya, jika kita hari ini menyaksikan para pemimpin tak ubahnya para pemain “drama” dan opera sabun. Tarian-tarian politiknya hanya untuk menyelamatkan citra pribadi dan kepentingan kelompok dan kroninya. Kebijakan dibuat kadang bukan untuk kepentingan rakyat, tapi untuk menutupi aib demi aib mereka. Seolah mereka lupa, bahwa kepemimpinan itu adalah amanah dan bukan orang-orang yang memiliki “iman” jika tidak mensifati dirinya dengan nilai amanah. Apakah jika kita menjadi pemimpin tidak pernah terbayang, bagaimana bisa menjadi orang yang dicintai oleh rakyat yang dipimpinnya. Siang dan malam rakyat menguntai doa untuk kebaikan dirinya, dari masa ia menjabat hingga wafatnya bahkan saat di alam kuburnya. Itu semua bisa diraihnya, dengan cara cintailah rakyat dengan kebijakan dan keputusan politik yang bisa menghantarkan rakyat kepada keadilan dan kesejahteraan. Bukan malah sebaliknya, hanya keadilan dan kemakmuran untuk para pejabat dan kroninya. Kiranya tidak perlu malu untuk belajar kepada pribadi pemimpin semisal Umar bin Abdul Aziz, jika tidak maka kepemimpinannya akan menjadi perkara yang di “benci” oleh setiap orang dan bisa jadi “hard landing” diakhir kepemimpinan persis seperti pesawat yang saya tumpangi disaat mendarat dan bisa membuat shok. (wallahu a’lam/Majalah Pamong readers,17 Okt 2011)


Tidak ada komentar