Sydney: 10 Tahun Perang Afghanistan, Ketidakadilan, Penindasan, dan Kegagalan
Kaum Muslim di Barat terus gencar untuk menyampaikan kebenaran serta terus membongkar persekongkolan para politisi Barat yang telah menjadikan warganya sia-sia terlibat dalam perang yang diinginkan AS untuk membunuhi kaum Muslim di Afghanistan. Di Australia misalnya, kelompok Islam Hizbut Tahrir setempat akan mengadakan kegiatan menandai 10 tahun beralu perang Afghanistan. Tidak tanggung-tanggung, kegiatan yang telah mendapat perhatian media ini akan digelar di dua kota, Sydney dan Merlbourne.
Hari Jumat, 7 Oktober 2011, tepat 10 tahun pendudukan pasukan asing ke negeri Muslim Afghanistan, para aktivis Hizbut Tahrir menggelar Seminar Publik Afghanistan: 10 Tahun Ketidakadilan, Penindasan dan Kegagalan di Sydney Australia. Acara serupa juga akan digelar pada hari Jumat, 14 Oktober 2011 di Batman's Hill, Melbourne, Australia.
Setelah satu dekade di Afghansitan, sudah saatnya untuk menilai secara jujur tentang perang ini, dan dalam konteks Australia, telah melanjutkan keterlibatan di dalamnya. Para politisi, dari kedua belah pihak, telah memuntahkan omongan kosong yang sama, dibangun atas cerita palsu, selama sepuluh tahun, karena lebih banyak tentara tewas, warga sipil tewas dan lebih-lebih banyak lagi dari Afghanistan yang telah hancur.
"Bergabunglah dengan kami dalam seminar publik memperingati sepuluh tahun perang untuk mendiskusikan raalitas perang ini, menunjukkan mengapa hal ini tidak adil, menindas, kegagalan yang gemilang, dan solusi alternatif bagi wilayah tersebut."
"Dan saatnya akhiri perang ini dan keterlibatan Australia di dalamnya, segera," tegas Hizbut Tahrir Australia dalam promosi acara mereka.
Agenda berani Hizbut Tahrir Australia ini mendapat perhatian publik, termasuk media. Bahkan beberapa media menyoroti aktivitas untuk mengungkap keterlibatan Australia demi kepentingan Amerika ini.
Bahkan, jauh-jauh menjelang agenda besar tersebut, para pemuda Hizbut Tahrir di Australia telah gencar melakukan aktivitas dakwah termasuk dakwah jalanan.
Harian Herald Sun memuat berita dengan judul "Kelompok Islam Kontroversial menyerukan untuk mengakhiri perang Afghan". Demikian juga, media harian The Telegraph Australia melaporkan hal yang sama.
Sekitar 40.000 selebaran telah disebar luaskan kepada masyararakat di sekitar Sydney selama sepekan lalu, menyoroti apa yang dikatakan kampanye pasukan koalisi Barat gagal di wilayah tersebut.
"Tidak ada yang bisa membantah bahwa dunia adalah tempat yang lebih aman," kata Jurubicara Hizbut Tahrir Australia Uthman Badar.
"Jika Anda belum menurunkan ancaman keamanan, jika Anda belum memasang pemerintah yang tepat, jika Anda belum menyingkirkan korupsi, apa yang telah Anda lakukan?"
"Perang tidak dapat dimenangkan dalam sebuah arti konvensional, sehingga Anda akan menarik keluar juga akhirnya," lanjutnya lagi.
"Dan sekarang kita diberitah bahwa mereka bernegoisasi dengan Taliban untuk memiliki beberapa bagian dalam pemerintahan setelah itu, sehingga tidak mencapai tujuan".
Pasukan Amerika dan Inggris telah meluncurkan perang di Afghanistan pada 7 Oktober 2001. Perang di negeri Muslim tersebut telah memakan korban ratusan ribu kaum Muslim tak bernyawa.
Hizbut Tahrir memberikan sebuah laporan tentang perang yang panjang ini, dan ingin melakukan debat publik tentang keterlibatan Australia dalam perang ini.
Sebelumnya, di Copenhagen beberapa waktu lalu, Hizbut Tahrir juga telah melakukan debat publik terkait perang Afghanistan yang mengkritik keterlibatan negara-negara di Skandinavia untuk menyenangkan kepentingan Amerika.
Demikianlah, kaum Muslim di Barat tidak pernah berhenti untuk terus melakukan dakwah dan debat sebagai bentuk kepedulian mereka atas urusan kaum Muslim di dunia Muslim yang terjajah oleh cengkraman para penjajah. Bila di Barat saja, kaum Muslim gencar membela kaum Muslim, sungguh sangat memalukan bila orang-orang berpengaruh di negeri Muslim terbesar ini malah tidak mau peduli, bahkan berjabat tangan dengan para penjajah.
Sudah saatnya, kaum Muslim bangkit, baik para ulama, cendekiawan, para pejabat, termasuk para tentara Muslim untuk membela Islam dan kaum Muslim. Kini saatnya, hilangkan batas-batas semu pemisah buatan Barat yang telah memecah belah umat. Umat benar-benar hanya menginginkan kesatuan kekuatan politik di bawah naungan Khilafah Islamiyyah yang akan menerapkan syariah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Insya Allah, semakin dekat. [m/f/telegraph/heraldsun/hizb-australia/syabab.com]
Hari Jumat, 7 Oktober 2011, tepat 10 tahun pendudukan pasukan asing ke negeri Muslim Afghanistan, para aktivis Hizbut Tahrir menggelar Seminar Publik Afghanistan: 10 Tahun Ketidakadilan, Penindasan dan Kegagalan di Sydney Australia. Acara serupa juga akan digelar pada hari Jumat, 14 Oktober 2011 di Batman's Hill, Melbourne, Australia.
Setelah satu dekade di Afghansitan, sudah saatnya untuk menilai secara jujur tentang perang ini, dan dalam konteks Australia, telah melanjutkan keterlibatan di dalamnya. Para politisi, dari kedua belah pihak, telah memuntahkan omongan kosong yang sama, dibangun atas cerita palsu, selama sepuluh tahun, karena lebih banyak tentara tewas, warga sipil tewas dan lebih-lebih banyak lagi dari Afghanistan yang telah hancur.
"Bergabunglah dengan kami dalam seminar publik memperingati sepuluh tahun perang untuk mendiskusikan raalitas perang ini, menunjukkan mengapa hal ini tidak adil, menindas, kegagalan yang gemilang, dan solusi alternatif bagi wilayah tersebut."
"Dan saatnya akhiri perang ini dan keterlibatan Australia di dalamnya, segera," tegas Hizbut Tahrir Australia dalam promosi acara mereka.
Agenda berani Hizbut Tahrir Australia ini mendapat perhatian publik, termasuk media. Bahkan beberapa media menyoroti aktivitas untuk mengungkap keterlibatan Australia demi kepentingan Amerika ini.
Bahkan, jauh-jauh menjelang agenda besar tersebut, para pemuda Hizbut Tahrir di Australia telah gencar melakukan aktivitas dakwah termasuk dakwah jalanan.
Harian Herald Sun memuat berita dengan judul "Kelompok Islam Kontroversial menyerukan untuk mengakhiri perang Afghan". Demikian juga, media harian The Telegraph Australia melaporkan hal yang sama.
Sekitar 40.000 selebaran telah disebar luaskan kepada masyararakat di sekitar Sydney selama sepekan lalu, menyoroti apa yang dikatakan kampanye pasukan koalisi Barat gagal di wilayah tersebut.
"Tidak ada yang bisa membantah bahwa dunia adalah tempat yang lebih aman," kata Jurubicara Hizbut Tahrir Australia Uthman Badar.
"Jika Anda belum menurunkan ancaman keamanan, jika Anda belum memasang pemerintah yang tepat, jika Anda belum menyingkirkan korupsi, apa yang telah Anda lakukan?"
"Perang tidak dapat dimenangkan dalam sebuah arti konvensional, sehingga Anda akan menarik keluar juga akhirnya," lanjutnya lagi.
"Dan sekarang kita diberitah bahwa mereka bernegoisasi dengan Taliban untuk memiliki beberapa bagian dalam pemerintahan setelah itu, sehingga tidak mencapai tujuan".
Pasukan Amerika dan Inggris telah meluncurkan perang di Afghanistan pada 7 Oktober 2001. Perang di negeri Muslim tersebut telah memakan korban ratusan ribu kaum Muslim tak bernyawa.
Hizbut Tahrir memberikan sebuah laporan tentang perang yang panjang ini, dan ingin melakukan debat publik tentang keterlibatan Australia dalam perang ini.
Sebelumnya, di Copenhagen beberapa waktu lalu, Hizbut Tahrir juga telah melakukan debat publik terkait perang Afghanistan yang mengkritik keterlibatan negara-negara di Skandinavia untuk menyenangkan kepentingan Amerika.
Demikianlah, kaum Muslim di Barat tidak pernah berhenti untuk terus melakukan dakwah dan debat sebagai bentuk kepedulian mereka atas urusan kaum Muslim di dunia Muslim yang terjajah oleh cengkraman para penjajah. Bila di Barat saja, kaum Muslim gencar membela kaum Muslim, sungguh sangat memalukan bila orang-orang berpengaruh di negeri Muslim terbesar ini malah tidak mau peduli, bahkan berjabat tangan dengan para penjajah.
Sudah saatnya, kaum Muslim bangkit, baik para ulama, cendekiawan, para pejabat, termasuk para tentara Muslim untuk membela Islam dan kaum Muslim. Kini saatnya, hilangkan batas-batas semu pemisah buatan Barat yang telah memecah belah umat. Umat benar-benar hanya menginginkan kesatuan kekuatan politik di bawah naungan Khilafah Islamiyyah yang akan menerapkan syariah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Insya Allah, semakin dekat. [m/f/telegraph/heraldsun/hizb-australia/syabab.com]


Tidak ada komentar