Yahudi Pasti Kalah
Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I. |
Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan (TQS Ali Imran [3]: 111).
Israel yang menjadi entitas Yahudi seringkali dimitoskan sebagai negara kuat. Kendati berulangkali melakukan tindak-an brutal terhadap kaum Muslim, tak ada perlawanan berarti dari negeri-negeri Muslim di sekitar-nya. Bahkan, sekadar mengecam kebiadaban mereka pun ada yang tak punya nyali.
Padahal kedigdayaan Yahudi itu hanya mitos belaka. Sesungguhnya kaum Ahli Kitab (Yahudi maupun Nasrani) amat lemah. Jangankan mengalahkan, menimpakan mudharat bagi ka-um Muslim pun mereka tidak bisa kecuali hanya gangguan kecil saja. Realitas ini dapat dijumpai dalam QS Ali Imran [3]: 111. Jika demikian, mengapa kini kaum Muslim seakan tak berdaya menghadapi mereka?
Tidak Bisa Menimpakan Mudharat
Allah SWT berfirman: Lan yadhurrûkum illâ adza[n] (mereka sekali-kali tidak akan dapat mem-buat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja). Kata ganti mereka (dhamîr wâwu al-jamâ'ah) pada kata yadhurrûkum merujuk kepa-da Ahli Kitab. Sementara kata ganti kalian (dhamîr mukhâthab) menunjuk kepada kaum Muslim. Kesimpulan didasarkan pada ayat sebelumnya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (TQS Ali Imran [3]: 110).
Ditegaskan dalam ayat ini, bahwa kaum Ahli Kitab itu tidak akan bisa menimpakan mudharat atau bahaya kepada kaum Mukmin. Kalaupun ada bahaya, maka bahaya itu amat ringan (dharar yasîr), yang dalam ayat ini disebut adzâ[n].
Dijelaskan Fakhruddin al-Razi, semua adzâ[n] yang mereka timbulkan itu hanya sebatas pada lisan. Ada yang berupa celaan tehadap Rasulullah SAW dan Nabi Isa as; menampakkan kekufuran, seperti ucapan mere-ka bahwa Uzair dan al-Masih adalah anak Allah (QS al-Taubah [9]: 30), Allah SWT ada tiga (QS al-Maidah [5]: 30); penyimpangan teks-teks dalam Taurat dan Injil; menimbulkan kekaburan bagi pendengarnya; atau menakut-nakuti kelemahan kaum Muslim.
Bagi umat Islam yang memiliki karakter khairu ummah sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya, semua gang-guan itu tidak berbahaya sama sekali. Sebaliknya, tindakan Ahli Kitab justru semakin menambah keyakinan mereka akan kebe-naran semua yang diberitakan Alquran.
Mereka Pasti Kalah
Ketidakmampuan mereka menimpakan mudarat dikukuh-kan oleh frasa berikutnya: wa in yuqâtilûkum yuwallûkum al-adbâr (dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang [kalah]). Ayat ini memberitakan salah satu karak-ter Ahli Kitab. Jika memerangi kaum Muslim, dipastikan mereka akan berbalik lari tunggang-langgang. Mereka tidak berani melanjutkan pertempuran mela-wan kaum Muslim.
Sikap pengecut itu sesung-guhnya tidak mengherankan. Sebab, sebagaimana layaknya kaum kafir, mereka amat menci-tai dunia dan tidak mempedulikan urusan akhirat (lihat QS al-Insan [76]: 27). Ketakutan kaum Yahudi terhadap kematian juga amat besar, lantaran kejahatan yang mereka lakukan (lihat QS al-Jumu'ah [62]: 7). Sebagai akibatnya, mereka sangat takut dengan segala yang membahayakan dan dianggap dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, ketika berperang mereka selalu diliputi rasa ketakutan. Begitu terlihat tanda-tanda kekalahan, mereka segera lari ke belakang untuk menye-lamatkan diri.
Tak hanya lari ke belakang. Mereka juga dipastikan kalah. Allah SWT berfirman: lâ yunsharûn (kemudian mereka tidak menda-pat pertolongan). Huruf tsumma memberikan pengertian li al-tartîb wa al-tarâkhî (adanya urutan dan sela waktu). Bahwa sesudah mereka lari ke belakang, beberapa waktu kemudian mereka benar-benar kalah dan tidak mendapatkan pertolongan.
Pada masa Rasulullah SAW berita gembira Allah SWT itu telah terealisasi. Kabilah Yahudi Bani Qainuqa' dan Bani Nadhir diusir dari Madinah. Sedangkan Bani Quraidhah setelah ditundukkan, divonis dengan hukuman amat berat. Laki-laki dewasanya dihu-kum mati; wanita dan anak-anaknya ditawan. Kaum Yahudi di Khaibar juga berhasil ditakluk-kan. Hingga akhirnya seluruh Jazirah Arab bersih dari entitas Yahudi.
Kaum Nasrani juga mengalami nasib serupa. Dalam Perang Tabuk, tentara Romawi sudah terlebih dahulu meninggalkan Tabuk sebelum bertemu dengan tentara Rasulullah SAW. Mereka ketakutan setelah sebelumnya mereka merasakan gigihnya ten-tara Islam dalam Perang Mu'tah. Padahal jumlah mereka jauh lebih besar, sekitar 200 ribu, sementara tentara Islam hanya sekitar 3 ribu. Semua itu menjadi bukti amat jelas, bahwa mereka sesungguhnya amat lemah.
Mengapa Kini Bisa Kalah?
Jika demikian halnya, mengapa umat Islam kini bisa dikalahkan oleh mereka? Apabila dicermati, berita tentang keta-kutan dan kekalahan kaum Ahli Kitab itu sesudah penyebutan umat Islam sebagai khayru ummah (sebaik-baiknya umat).
Predikat itu diberikan karena mereka memerintahkan yang ma'ruf, melarang yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT. Itu artinya sebagai-mana diterangkan Abdurrahman al-Sa'di-- mereka telah berupaya menyem-purnakan diri mereka dengan beriman dan menger-jakan yang diperintahkan; dan menyempurnakan pihak lainnya, dengan melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Mereka tidak hanya menerapkan syariah pada diri mereka sendiri, namun juga kepada pihak lain. Umat seperti inilah yang ditakuti dan tidak dapat dikalahkan oleh kaum Ahli Kitab. Namun sayangnya, karak-ter demikian secara umum sedang menghilang dari kaum Muslim.
Contoh paling jelas adalah dalam perkara walâ' (loyalitas). Islam menetapkan bahwa kaum Muslim hanya diperbolehkan mengangkat waliyy (pelindung dan pemimpin) dan bithânah (orang kepercayaan) dari kalang-an mereka. Sesama mereka ditetapkan sebagai saudara yang ruhamâ' baynahum (saling ber-kasih sayang di antara mereka). Tatkala berperang melawan musuh, mereka diperintahkan dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Sikap sebaliknya diberlakukan kepada kaum kafir. Kaum Muslim dilarang keras menyerah-kan walâ' kepada kaum kafir, bahkan harus asiddâ' 'alâ al-kuffâr (bersikap keras terhadap kaum kafir).
Ketentuan syara' ini ditabrak oleh para penguasa di negeri-negeri Muslim. Mereka menyerahkan walâ'-nya kepada kaum kafir. Termasuk kepada negara-negara kafir yang terang-terangan memusuhi dan meme-rangi Islam, seperti Amerika dan Inggris. Juga Israel yang merampas tanah kaum Muslim. Tak jarang, para penguasa Muslim itu berada di belakang barisan tentara kafir ketika menyerang Islam dan kaum Muslim.
Tindakan tersebut jelas merupakan kemaksiatan besar. Di samping juga menimbulkan kerusakan dan kehancuran. Allah SWT berfirman: Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar (TQS al-Anfal [8]: 73). Tampaknya, inilah faktor utama kekalahan kaum Muslim. Para penguasa mereka lebih memilih bersahabat dan bergandengan tangan dengan kaum kafir yang notabene musuh mereka daripada saudara mereka seaqidah. Belum cukupkah bukti pengkhianatan mereka? Wal-Lâh a'lam bi al-shawâb.
Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan (TQS Ali Imran [3]: 111).
Israel yang menjadi entitas Yahudi seringkali dimitoskan sebagai negara kuat. Kendati berulangkali melakukan tindak-an brutal terhadap kaum Muslim, tak ada perlawanan berarti dari negeri-negeri Muslim di sekitar-nya. Bahkan, sekadar mengecam kebiadaban mereka pun ada yang tak punya nyali.
Padahal kedigdayaan Yahudi itu hanya mitos belaka. Sesungguhnya kaum Ahli Kitab (Yahudi maupun Nasrani) amat lemah. Jangankan mengalahkan, menimpakan mudharat bagi ka-um Muslim pun mereka tidak bisa kecuali hanya gangguan kecil saja. Realitas ini dapat dijumpai dalam QS Ali Imran [3]: 111. Jika demikian, mengapa kini kaum Muslim seakan tak berdaya menghadapi mereka?
Tidak Bisa Menimpakan Mudharat
Allah SWT berfirman: Lan yadhurrûkum illâ adza[n] (mereka sekali-kali tidak akan dapat mem-buat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja). Kata ganti mereka (dhamîr wâwu al-jamâ'ah) pada kata yadhurrûkum merujuk kepa-da Ahli Kitab. Sementara kata ganti kalian (dhamîr mukhâthab) menunjuk kepada kaum Muslim. Kesimpulan didasarkan pada ayat sebelumnya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (TQS Ali Imran [3]: 110).
Ditegaskan dalam ayat ini, bahwa kaum Ahli Kitab itu tidak akan bisa menimpakan mudharat atau bahaya kepada kaum Mukmin. Kalaupun ada bahaya, maka bahaya itu amat ringan (dharar yasîr), yang dalam ayat ini disebut adzâ[n].
Dijelaskan Fakhruddin al-Razi, semua adzâ[n] yang mereka timbulkan itu hanya sebatas pada lisan. Ada yang berupa celaan tehadap Rasulullah SAW dan Nabi Isa as; menampakkan kekufuran, seperti ucapan mere-ka bahwa Uzair dan al-Masih adalah anak Allah (QS al-Taubah [9]: 30), Allah SWT ada tiga (QS al-Maidah [5]: 30); penyimpangan teks-teks dalam Taurat dan Injil; menimbulkan kekaburan bagi pendengarnya; atau menakut-nakuti kelemahan kaum Muslim.
Bagi umat Islam yang memiliki karakter khairu ummah sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya, semua gang-guan itu tidak berbahaya sama sekali. Sebaliknya, tindakan Ahli Kitab justru semakin menambah keyakinan mereka akan kebe-naran semua yang diberitakan Alquran.
Mereka Pasti Kalah
Ketidakmampuan mereka menimpakan mudarat dikukuh-kan oleh frasa berikutnya: wa in yuqâtilûkum yuwallûkum al-adbâr (dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang [kalah]). Ayat ini memberitakan salah satu karak-ter Ahli Kitab. Jika memerangi kaum Muslim, dipastikan mereka akan berbalik lari tunggang-langgang. Mereka tidak berani melanjutkan pertempuran mela-wan kaum Muslim.
Sikap pengecut itu sesung-guhnya tidak mengherankan. Sebab, sebagaimana layaknya kaum kafir, mereka amat menci-tai dunia dan tidak mempedulikan urusan akhirat (lihat QS al-Insan [76]: 27). Ketakutan kaum Yahudi terhadap kematian juga amat besar, lantaran kejahatan yang mereka lakukan (lihat QS al-Jumu'ah [62]: 7). Sebagai akibatnya, mereka sangat takut dengan segala yang membahayakan dan dianggap dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, ketika berperang mereka selalu diliputi rasa ketakutan. Begitu terlihat tanda-tanda kekalahan, mereka segera lari ke belakang untuk menye-lamatkan diri.
Tak hanya lari ke belakang. Mereka juga dipastikan kalah. Allah SWT berfirman: lâ yunsharûn (kemudian mereka tidak menda-pat pertolongan). Huruf tsumma memberikan pengertian li al-tartîb wa al-tarâkhî (adanya urutan dan sela waktu). Bahwa sesudah mereka lari ke belakang, beberapa waktu kemudian mereka benar-benar kalah dan tidak mendapatkan pertolongan.
Pada masa Rasulullah SAW berita gembira Allah SWT itu telah terealisasi. Kabilah Yahudi Bani Qainuqa' dan Bani Nadhir diusir dari Madinah. Sedangkan Bani Quraidhah setelah ditundukkan, divonis dengan hukuman amat berat. Laki-laki dewasanya dihu-kum mati; wanita dan anak-anaknya ditawan. Kaum Yahudi di Khaibar juga berhasil ditakluk-kan. Hingga akhirnya seluruh Jazirah Arab bersih dari entitas Yahudi.
Kaum Nasrani juga mengalami nasib serupa. Dalam Perang Tabuk, tentara Romawi sudah terlebih dahulu meninggalkan Tabuk sebelum bertemu dengan tentara Rasulullah SAW. Mereka ketakutan setelah sebelumnya mereka merasakan gigihnya ten-tara Islam dalam Perang Mu'tah. Padahal jumlah mereka jauh lebih besar, sekitar 200 ribu, sementara tentara Islam hanya sekitar 3 ribu. Semua itu menjadi bukti amat jelas, bahwa mereka sesungguhnya amat lemah.
Mengapa Kini Bisa Kalah?
Jika demikian halnya, mengapa umat Islam kini bisa dikalahkan oleh mereka? Apabila dicermati, berita tentang keta-kutan dan kekalahan kaum Ahli Kitab itu sesudah penyebutan umat Islam sebagai khayru ummah (sebaik-baiknya umat).
Predikat itu diberikan karena mereka memerintahkan yang ma'ruf, melarang yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT. Itu artinya sebagai-mana diterangkan Abdurrahman al-Sa'di-- mereka telah berupaya menyem-purnakan diri mereka dengan beriman dan menger-jakan yang diperintahkan; dan menyempurnakan pihak lainnya, dengan melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Mereka tidak hanya menerapkan syariah pada diri mereka sendiri, namun juga kepada pihak lain. Umat seperti inilah yang ditakuti dan tidak dapat dikalahkan oleh kaum Ahli Kitab. Namun sayangnya, karak-ter demikian secara umum sedang menghilang dari kaum Muslim.
Contoh paling jelas adalah dalam perkara walâ' (loyalitas). Islam menetapkan bahwa kaum Muslim hanya diperbolehkan mengangkat waliyy (pelindung dan pemimpin) dan bithânah (orang kepercayaan) dari kalang-an mereka. Sesama mereka ditetapkan sebagai saudara yang ruhamâ' baynahum (saling ber-kasih sayang di antara mereka). Tatkala berperang melawan musuh, mereka diperintahkan dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Sikap sebaliknya diberlakukan kepada kaum kafir. Kaum Muslim dilarang keras menyerah-kan walâ' kepada kaum kafir, bahkan harus asiddâ' 'alâ al-kuffâr (bersikap keras terhadap kaum kafir).
Ketentuan syara' ini ditabrak oleh para penguasa di negeri-negeri Muslim. Mereka menyerahkan walâ'-nya kepada kaum kafir. Termasuk kepada negara-negara kafir yang terang-terangan memusuhi dan meme-rangi Islam, seperti Amerika dan Inggris. Juga Israel yang merampas tanah kaum Muslim. Tak jarang, para penguasa Muslim itu berada di belakang barisan tentara kafir ketika menyerang Islam dan kaum Muslim.
Tindakan tersebut jelas merupakan kemaksiatan besar. Di samping juga menimbulkan kerusakan dan kehancuran. Allah SWT berfirman: Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar (TQS al-Anfal [8]: 73). Tampaknya, inilah faktor utama kekalahan kaum Muslim. Para penguasa mereka lebih memilih bersahabat dan bergandengan tangan dengan kaum kafir yang notabene musuh mereka daripada saudara mereka seaqidah. Belum cukupkah bukti pengkhianatan mereka? Wal-Lâh a'lam bi al-shawâb.

Tidak ada komentar