Merasa Dibatasi Pemerintah, Puluhan Imam Masjid di Maroko Unjuk Rasa
Puluhan imam dari masjid-masjid di Maroko memprotes ketatnya kontrol yang dilakukan pemerintah terhadap kegiatan dakwah mereka. Untuk kesekian kalinya, para imam masjid itu menggelar aksi unjuk rasa di Rabat, ibukota negeri itu.
Pemerintah Maroko memantau dengan ketat aktivitas di seluruh masjid dengan dalih mencegah masuknya pengaruh pemikiran para ekstrimis Al-Qaida. Para imam masjid di Maroko wajib membacakan naskah khutbah Jumat yang disiapkan pemerintah, dan isi khutbah mereka tidak boleh menyimpang dari teks yang diberikan.
Sekira 50 imam yang ikut serta dalam aksi protes itu sempat terlibat bentrok dengan polisi yang mencoba membubarkan mereka dan menahan tiga imam yang sedang berunjuk rasa. Namun puluhan imam yang mengenakan busana tradisional berupa baju panjang dan topi khas muslim itu, akhirnya diizinkan masuk ke kompleks gedung parlemen.
"Imam masjid menuntut kebebasan, kehormatan, keadilan dan hak mereka secara penuh," demikian tulisan yang tertera di salah satu spanduk dalam aksi protes.
Unjuk rasa yang dilakukan para imam masjid merupakan hal yang jarang terjadi di Maroko, dimana Raja Mohammed VI menjadi pemegang kekuasaan tertinggi urusan keagamaan di negeri itu. Aksi unjuk rasa pertama para imam masjid bulan Juni lalu, sempat mengagetkan rakyat Maroko. Polisi dengan cepat meredam dan membubarkan aksi protes tersebut.
"Kami menginginkan kewibawaan dan kebebasan," kata Ait Lashgar Hussein yang sudah 28 tahun menjadi imam masjid di kota Marakesh. "Saya cuma menuntut hak-hak saya," tukasnya.
Imam-imam masjid di Maroko tidak nyaman dalam melakukan akvitas dakwahnya karena merasa terancam dan diintimidasi polisi. Para imam itu, selain menuntut kebebasan dalam memberikan khutbah, juga menuntut kenaikan gaji serta kebebasan untuk memberikan konsultasi agama dan syariah. (kw/EN/eramuslim)
Pemerintah Maroko memantau dengan ketat aktivitas di seluruh masjid dengan dalih mencegah masuknya pengaruh pemikiran para ekstrimis Al-Qaida. Para imam masjid di Maroko wajib membacakan naskah khutbah Jumat yang disiapkan pemerintah, dan isi khutbah mereka tidak boleh menyimpang dari teks yang diberikan.
Sekira 50 imam yang ikut serta dalam aksi protes itu sempat terlibat bentrok dengan polisi yang mencoba membubarkan mereka dan menahan tiga imam yang sedang berunjuk rasa. Namun puluhan imam yang mengenakan busana tradisional berupa baju panjang dan topi khas muslim itu, akhirnya diizinkan masuk ke kompleks gedung parlemen.
"Imam masjid menuntut kebebasan, kehormatan, keadilan dan hak mereka secara penuh," demikian tulisan yang tertera di salah satu spanduk dalam aksi protes.
Unjuk rasa yang dilakukan para imam masjid merupakan hal yang jarang terjadi di Maroko, dimana Raja Mohammed VI menjadi pemegang kekuasaan tertinggi urusan keagamaan di negeri itu. Aksi unjuk rasa pertama para imam masjid bulan Juni lalu, sempat mengagetkan rakyat Maroko. Polisi dengan cepat meredam dan membubarkan aksi protes tersebut.
"Kami menginginkan kewibawaan dan kebebasan," kata Ait Lashgar Hussein yang sudah 28 tahun menjadi imam masjid di kota Marakesh. "Saya cuma menuntut hak-hak saya," tukasnya.
Imam-imam masjid di Maroko tidak nyaman dalam melakukan akvitas dakwahnya karena merasa terancam dan diintimidasi polisi. Para imam itu, selain menuntut kebebasan dalam memberikan khutbah, juga menuntut kenaikan gaji serta kebebasan untuk memberikan konsultasi agama dan syariah. (kw/EN/eramuslim)


Tidak ada komentar