Ironi Deradikalisasi Ansyad Mbai (Cerita dari Kampungnya Bos BNPT)
Siapa yang tidak kenal dengan Ansyad Mbai..sosok yang dua tahun
terakhir ini sering nongol di layar kaca, menjadi narasumber dalam
isu-isu terorisme. Dan dengan lembaga yang di gawanginya (BNPT) Ansyad
Mbai bersama para krunya gencar melakukan langkah-langkah membabat habis
teroisme sampai akar-akarnya...ibarat membakar rumput sudah dilakukan,
ia juga bernafsu mencabut tiap serabut akar dari rumput yang masih
terbenam dalam tanah...agar tidak lagi tumbuh rumputnya dikala ada
momentum (hujan) yang akan menjadi iklim subur pertumbuhan rumput
tersebut...salah satu program yang paling mendapatkan perhatian adalah
gerakan deradikalisasi, selain langkah LE (penegakan hukum). Proyek yang
cukup membuat "buncit" perut orang-orang yang tamak dan opurtunis,
demikian juga menjadi lahan dan ladang pekerjaan baru bagi sebagian
kelompok atau individu yang biasa melacur dengan ilmu dan
intelektualitasnya.
Pak Ansyad ingin menjadikan masyarakat tidak radikal atau bahkan kemudian melakukan tindak pidana terorisme, maka proyek ini juga tidak hanya orang-orang (kelompok) radikal yang akan dijadikan obyek proyek, tapi juga masyarakat luas agar mereka tidak menjadi orang-orang radikal karena pemahaman agamanya (Islam). Yang perlu di ingat, proyek ini tidak untuk men Deradikalisasi orang-orang gereja Ekstrimis atau kelompok sosialis ektrimis, tapi proyek untuk "mengkebiri" umat Islam agar menjadi warga negara yang "manis" menjadi penumpang diatas "kapal (negara)" yang dibawa mengarungi samudra dengan gelombang, badai dan topan yang ganas (Demokrasi & Neo Liberalisme-sebagai sebuah pilihan konyol, padahal masih ada jalan lain dan rute lain yang lebih selamat).
Tapi saya tidak ingin melanjutkan notes ini panjang lebar, saya hendak berbagi setelah "khuruj" di lapangan kemudian sampailah rasa dan pikiran serta fisik saya tentang sebuah daerah kabupaten kecil di wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di sebuah pulau Bau-bau dan kordinatnya di Buton Utara, kota kecil (kecamatan) Arekke'. Inilah kampung Bos BNPT (Ansyad Mbai)...dari pembacaan dan penyerapan lapang saya, ada yang miris dan inilah yang saya mau katakan sebuah ironi untuk pak Ansyad Mbai....dimana-mana cerita pentingnya deradikalisasi, tapi apa yang terjadi di Arekke beberapa bulan lalu?
Tersebutlah seorang perempuan paruh Baya, dia bernama SUMARNI di daerah itu dia menjadi ketua partai "orde Baru" Golkar, hanya jebolan -IJAZAH PAKET C- SMU, dan masyarakat mengenalnya dia ISTRI ANSYAD MBAI, Seorang pensiunan jendral dan sekarang jadi orang penting di bawah Presiden (ketua BNPT)...istri seorang mantan Kapolda dari suatu tempat, dan dikenal dia seorang yang "tajir" karena banyak usaha kebun sawit dll. Ibu satu ini kemudian mencoba mengadu nasib, mengadu keberuntungan untuk menjadi Bupati Buton Utara (daerah pemekaran baru)..sekalipun sudah lama tidak tinggal di Arekke. Mungkin karena modal duit yang cukup, dengan jabatan ketua Golkar plus dibelakangnya ada seorang suami "orang penting" pensiunan mayor Jendral polisi Ibu satu ini dengan bekal Ijazah SMU-PAKET C maju berlaga dengan 4 pasangan calon Bupati lainya...yang unik, semua calon hampir semua baku "saudara" alias famili/saudara sepupu dll...
Kampanye dimulai, pasang gambar, poster dll semua dilakukan layaknya jelang pilkada. Saat kampanye ibu ini berjanji: akan meningkatkan kesejahteraan PNS, dan berjanji pula; para pejabat akan di naikkan:dari ESELON II menjadi ESELON III, DARI ESELON III MENJADI ESELON IV (MAKLUM BUKAN LULUSAN STPDN...HIIKS)..
Akhirnya singkat cerita, Ibu ini gagal total dan kalah...seperti biasa, sekalipun calon yang menang sudah dilantik, tidak juga menyurutkan langkah Ibu ini beserta bolokurowonya (tim) untuk menggugat dan mempersoalkan keabsahan pejabat bupati yang sah saat ini (bupati itu sepupu juga dengan ibu sumarni)...kekecewaan dan kerugian besar akibat gagal jadi bupati, menjadi stimulus munculnya tindakan-tindakan RADIKAL DAN ANARKIS DARI MASSA PENDUKUNGNYA...
AKHIRNYA SEBUAH FAKTA TIDAK BISA DI TUTUPI: MASA YANG BERGERAK DARI RUMAH TINGGAL ANSYAD MBAI...BERIRINGAN BERJALAN KE ARAH FASILITAS2 PEMERINTAH, BERGERAK MEMBAKAR KANTOR DISPENDA HINGGA LUDES...KEMUDIAN KANTOR DPRD JUGA dibakar HANCUR LUDES...2 MOBIL DINA JUGA HANGUS TERBAKAR....
INILAH FAKTA-FAKTA......SEKALI LAGI FAKTA...
DEMOKRASI dengan Pilkadanya menjadi sumber tindakan radikal dan Anarkis...tindakan TERORIS, MEMBAKAR FASILITAS PEMERINTAH DENGAN MOTIF POLITIK..ketidakpuasan karena kalah kepentingan politiknya.....
dari fakta ini, siapapun yang membaca note ini...coba rangkai pertanyaan untuk pak Ansyad Mbai: deradikalisasi cap gayung atau cap apakah? yang di inginkan....di kampung sendiri, Istrinya yang kalah berlaga menjadi pemicu massa berkumpul dan menghancurkan fasilitas pemerintah yang dibuat dari uang rakyat....ini sebuah tindakan TERORIS....TERORIS DAN TERORIS......(cukup dulu note ini, lain kali di lanjutkan). Hanya Allah SWT sebaik2 penjaga atas tiap hambaNya...
Sumber
Pak Ansyad ingin menjadikan masyarakat tidak radikal atau bahkan kemudian melakukan tindak pidana terorisme, maka proyek ini juga tidak hanya orang-orang (kelompok) radikal yang akan dijadikan obyek proyek, tapi juga masyarakat luas agar mereka tidak menjadi orang-orang radikal karena pemahaman agamanya (Islam). Yang perlu di ingat, proyek ini tidak untuk men Deradikalisasi orang-orang gereja Ekstrimis atau kelompok sosialis ektrimis, tapi proyek untuk "mengkebiri" umat Islam agar menjadi warga negara yang "manis" menjadi penumpang diatas "kapal (negara)" yang dibawa mengarungi samudra dengan gelombang, badai dan topan yang ganas (Demokrasi & Neo Liberalisme-sebagai sebuah pilihan konyol, padahal masih ada jalan lain dan rute lain yang lebih selamat).
Tapi saya tidak ingin melanjutkan notes ini panjang lebar, saya hendak berbagi setelah "khuruj" di lapangan kemudian sampailah rasa dan pikiran serta fisik saya tentang sebuah daerah kabupaten kecil di wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di sebuah pulau Bau-bau dan kordinatnya di Buton Utara, kota kecil (kecamatan) Arekke'. Inilah kampung Bos BNPT (Ansyad Mbai)...dari pembacaan dan penyerapan lapang saya, ada yang miris dan inilah yang saya mau katakan sebuah ironi untuk pak Ansyad Mbai....dimana-mana cerita pentingnya deradikalisasi, tapi apa yang terjadi di Arekke beberapa bulan lalu?
Tersebutlah seorang perempuan paruh Baya, dia bernama SUMARNI di daerah itu dia menjadi ketua partai "orde Baru" Golkar, hanya jebolan -IJAZAH PAKET C- SMU, dan masyarakat mengenalnya dia ISTRI ANSYAD MBAI, Seorang pensiunan jendral dan sekarang jadi orang penting di bawah Presiden (ketua BNPT)...istri seorang mantan Kapolda dari suatu tempat, dan dikenal dia seorang yang "tajir" karena banyak usaha kebun sawit dll. Ibu satu ini kemudian mencoba mengadu nasib, mengadu keberuntungan untuk menjadi Bupati Buton Utara (daerah pemekaran baru)..sekalipun sudah lama tidak tinggal di Arekke. Mungkin karena modal duit yang cukup, dengan jabatan ketua Golkar plus dibelakangnya ada seorang suami "orang penting" pensiunan mayor Jendral polisi Ibu satu ini dengan bekal Ijazah SMU-PAKET C maju berlaga dengan 4 pasangan calon Bupati lainya...yang unik, semua calon hampir semua baku "saudara" alias famili/saudara sepupu dll...
Kampanye dimulai, pasang gambar, poster dll semua dilakukan layaknya jelang pilkada. Saat kampanye ibu ini berjanji: akan meningkatkan kesejahteraan PNS, dan berjanji pula; para pejabat akan di naikkan:dari ESELON II menjadi ESELON III, DARI ESELON III MENJADI ESELON IV (MAKLUM BUKAN LULUSAN STPDN...HIIKS)..
Akhirnya singkat cerita, Ibu ini gagal total dan kalah...seperti biasa, sekalipun calon yang menang sudah dilantik, tidak juga menyurutkan langkah Ibu ini beserta bolokurowonya (tim) untuk menggugat dan mempersoalkan keabsahan pejabat bupati yang sah saat ini (bupati itu sepupu juga dengan ibu sumarni)...kekecewaan dan kerugian besar akibat gagal jadi bupati, menjadi stimulus munculnya tindakan-tindakan RADIKAL DAN ANARKIS DARI MASSA PENDUKUNGNYA...
AKHIRNYA SEBUAH FAKTA TIDAK BISA DI TUTUPI: MASA YANG BERGERAK DARI RUMAH TINGGAL ANSYAD MBAI...BERIRINGAN BERJALAN KE ARAH FASILITAS2 PEMERINTAH, BERGERAK MEMBAKAR KANTOR DISPENDA HINGGA LUDES...KEMUDIAN KANTOR DPRD JUGA dibakar HANCUR LUDES...2 MOBIL DINA JUGA HANGUS TERBAKAR....
INILAH FAKTA-FAKTA......SEKALI LAGI FAKTA...
DEMOKRASI dengan Pilkadanya menjadi sumber tindakan radikal dan Anarkis...tindakan TERORIS, MEMBAKAR FASILITAS PEMERINTAH DENGAN MOTIF POLITIK..ketidakpuasan karena kalah kepentingan politiknya.....
dari fakta ini, siapapun yang membaca note ini...coba rangkai pertanyaan untuk pak Ansyad Mbai: deradikalisasi cap gayung atau cap apakah? yang di inginkan....di kampung sendiri, Istrinya yang kalah berlaga menjadi pemicu massa berkumpul dan menghancurkan fasilitas pemerintah yang dibuat dari uang rakyat....ini sebuah tindakan TERORIS....TERORIS DAN TERORIS......(cukup dulu note ini, lain kali di lanjutkan). Hanya Allah SWT sebaik2 penjaga atas tiap hambaNya...
Sumber


Tidak ada komentar