Polisi Di Balik Bom Cirebon?
Ketua Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia Syuhada Bahri menyatakan
kalau polisi tidak bisa membuktikan siapa di balik Bom Cirebon berarti
otaknya memang pihak kepolisian sendiri.
“Kalau polisi tidak bisa membuktikan berarti pelakunya memang polisi sendiri,” ujarnya kepada para petinggi DPP Hizbut Tahrir Indonesia yang datang untuk bersilaturahmi, Kamis (5/7) siang di ruang kerja Ketua Umum DDII, Gedung DDII Jalan Kramat Raya, Jakarta.
Menurutnya, pelaku bom jelang shalat Jum’at pada 15 April 2011 di dalam masjid Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon tersebut merupakan buronan (DPO) pihak kepolisian.
“Dia itu DPO-nya polisi, karena membunuh tentara, kenapa bisa datang ke situ mau shalat Jum’at? Bawa bom lagi!” ungkap Syuhada mempertanyakan keganjilan kasus.
Tapi anehnya, pihak kepolisian menuding bahwa Jamaah Ansharu Tauhid (JAT) di balik bom yang dilakukan M Syarif tersebut.
“Bom Solo dan Bom Cirebon sama sekali tidak ada kaitannya dengan JAT, bahkan JAT dua kali mengutuk kejadian itu, Ustadz Abu (Abu Bakar Baasyir, Amir JAT-red) juga sudah jelas menolak Bom Bali I dan Bali II,” timpal Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto.
Ismail pun menyatakan bahwa pemerintah memang sangat tunduk pada asing, contohnya adalah penetapan JAT sebagai kelompok teroris oleh Amerika. Tetapi tidak ada pembelaan sama sekali, padahal tidak ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
“Padahal kan ini menyangkut tumpah darah Indonesia,” ujarnya. Tetapi di sisi lain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah memberi grasi kepada pengedar narkoba Corby yang warga Australia. “Nampak betul kalau SBY ingin membela asing,” ujarnya.
Delegasi DPP HTI yang terdiri dari Rokhmat S Labib (Ketua); Muhammad Ismail Yusanto (Jubir); Abu Zaid; Budi Darmawan; dan Roni Ruslan tersebut disambut hangat oleh para petinggi DDII Pusat yakni Syuhada Bahri (Ketua Umum); Abdul Wahid Alwi (Waketum); Amlir Syaifa (Sekjen); Suwito Suprayogi; dan Zulfi Syukur.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam, kedua ormas Islam tersebut selain menyimpulkan bahwa isu teroris proyek musuh Islam dan antek untuk menjauhkan umat dari agamanya, mereka juga membahas masalah-masalah lainnya terkait upaya menegakkan syariah Islam secara kaaffah.[] Joko Prasetyo [HTIPress/al-khilafah.org]






“Kalau polisi tidak bisa membuktikan berarti pelakunya memang polisi sendiri,” ujarnya kepada para petinggi DPP Hizbut Tahrir Indonesia yang datang untuk bersilaturahmi, Kamis (5/7) siang di ruang kerja Ketua Umum DDII, Gedung DDII Jalan Kramat Raya, Jakarta.
Menurutnya, pelaku bom jelang shalat Jum’at pada 15 April 2011 di dalam masjid Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon tersebut merupakan buronan (DPO) pihak kepolisian.
“Dia itu DPO-nya polisi, karena membunuh tentara, kenapa bisa datang ke situ mau shalat Jum’at? Bawa bom lagi!” ungkap Syuhada mempertanyakan keganjilan kasus.
Tapi anehnya, pihak kepolisian menuding bahwa Jamaah Ansharu Tauhid (JAT) di balik bom yang dilakukan M Syarif tersebut.
“Bom Solo dan Bom Cirebon sama sekali tidak ada kaitannya dengan JAT, bahkan JAT dua kali mengutuk kejadian itu, Ustadz Abu (Abu Bakar Baasyir, Amir JAT-red) juga sudah jelas menolak Bom Bali I dan Bali II,” timpal Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto.
Ismail pun menyatakan bahwa pemerintah memang sangat tunduk pada asing, contohnya adalah penetapan JAT sebagai kelompok teroris oleh Amerika. Tetapi tidak ada pembelaan sama sekali, padahal tidak ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
“Padahal kan ini menyangkut tumpah darah Indonesia,” ujarnya. Tetapi di sisi lain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah memberi grasi kepada pengedar narkoba Corby yang warga Australia. “Nampak betul kalau SBY ingin membela asing,” ujarnya.
Delegasi DPP HTI yang terdiri dari Rokhmat S Labib (Ketua); Muhammad Ismail Yusanto (Jubir); Abu Zaid; Budi Darmawan; dan Roni Ruslan tersebut disambut hangat oleh para petinggi DDII Pusat yakni Syuhada Bahri (Ketua Umum); Abdul Wahid Alwi (Waketum); Amlir Syaifa (Sekjen); Suwito Suprayogi; dan Zulfi Syukur.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam, kedua ormas Islam tersebut selain menyimpulkan bahwa isu teroris proyek musuh Islam dan antek untuk menjauhkan umat dari agamanya, mereka juga membahas masalah-masalah lainnya terkait upaya menegakkan syariah Islam secara kaaffah.[] Joko Prasetyo [HTIPress/al-khilafah.org]


Tidak ada komentar