Header Ads

Korban Banjir Jeddah Bertambah Lagi

Jeddah - Jumlah korban tewas akibat banjir bandang yang melanda Jeddah, Arab Saudi, terus bertambah. Hingga kemarin, tercatat 83 orang menjadi korban musibah tersebut. Angka ini diperkirakan akan semakin membengkak karena masih banyaknya warga yang melaporkan kehilangan anggota keluarga mereka. Jeddah terletak di Arab Saudi sebelah barat dan berjarak 80 km dari Mekkah.

Jeddah merupakan gerbang utama menuju Kota Suci Mekkah yang kini dipadati tidak kurang dari 3 juta umat Islam yang tengah melaksanakan ibadah haji. Namun, pejabat Jeddah memastikan tidak ada satu pun korban tewas merupakan jamaah haji. Banjir bandang di Kota Jeddah juga tidak terlalu berpengaruh pada pelaksanaan ibadah haji.
Meski hujan sempat turun di Mekkah, Arafah, dan Mina serta membasahi tenda dan karpet di dalamnya, prosesi wukuf ataupun melempar jumrah tidak mengalami kendala berarti. Banjir bandang terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur Jeddah sejak tiga hari lalu. Selama tiga hari kemarin, curah hujan di Jeddah diperkirakan mencapai 70 mm. Angka ini terbilang sangat tinggi mengingat curah hujan ratarata sepanjang tahun di Jeddah hanya 67 mm.

Hujan lebat di Jeddah memang jarang terjadi mengingat Arab Saudi beriklim kering/gurun dengan curah hujan sangat rendah. Hujan lebat biasanya hanya terjadi pada bulan Desember. Namun, tahun ini hujan lebat justru turun pada November dan menimbulkan banjir terburuk dalam 27 tahun terakhir.

Di beberapa sudut Kota Jeddah, ketinggian air diperkirakan mencapai lebih dari 1 meter. Banjir juga menghancurkan jalan dan jembatan hingga membuat banyak orang yang sedang melintas tewas dan terseret banjir. Beberapa wilayah yang mengalami banjir paling parah terletak di sebelah timur jalur tol Jeddah- Mekkah seperti Al-Muntazahat, Quaizah,Al-Adl, Al-Sulaimaniyah, dan Al-Jamaa.
Di wilayah itu, banjir bahkan merusak jalur Al-Harmain Expressway yang sebenarnya baru akan diresmikan dalam waktu dekat. Di Distrik Abraq Al-Raghama sejumlah warga terpaksa harus naik ke atap-atap rumah mereka untuk menghindari banjir sambil menunggu pertolongan. Akibat banjir ini, sejumlah rumah sakit tergenang dan sempat berhenti beroperasi. Namun, semua rumah sakit kini sudah beroperasi kembali, kecuali Rabigh General Hospital.

Juru bicara Kantor Pertahanan Sipil Jeddah Kapten Abdullah Al- Amri mengatakan, dari 83 jenazah, 71 jenazah sudah diambil keluarganya untuk dimakamkan. Untuk mencari kemungkinan adanya korban tambahan, Pemerintah Arab Saudi sudah menerjunkan 120 tim SAR. Hingga kemarin siang, mereka terus menyisir sejumlah lokasi yang terdampak paling parah. Pemerintah juga mengerahkan 1.000 pekerja dan 130 mesin penyedot air untuk mengurangi genangan.

Untuk menampung korban banjir, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil sedang menyiapkan apartemen khusus. Hingga kini, baru 20 keluarga yang sudah menempati apartemen penampungan itu. Selain menampung korban banjir, pemerintah juga sudah mengungsikan 900 orang yang menderita banjir.

Warga Jeddah mengkhawatirkan banjir bandang ini akan membuat danau penampung limbah yang berada di kota itu jebol. Namun, kekhawatiran tersebut ditepis juru bicara Wali Kota Jeddah Ahmad al-Ghamdi. Dia meyakinkan bahwa danau itu aman dari banjir. Saat debit air di danau tersebut mencapai ketinggian 90 cm, Al-Ghamdi mengakui sempat cemas, tapi kekhawatirannya hilang setelah melihat debit air yang semakin berkurang.

Selain curah hujan yang tinggi, buruknya sistem drainase di Kota Jeddah disinyalir menjadi penyebab banjir.Pemerintah Arab Saudi sebenarnya sudah memulai proyek raksasa untuk membenahi drainase tersebut. Sekretaris Kota Madya Jeddah Bidang Konstruksi dan Proyek Ibrahim Kutubkhanah mengatakan, proyek itu sudah berjalan dan diperkirakan membutuhkan dana tak kurang dari sekitar 3 miliar real atau sekitar Rp3 triliun. "Pembangunan proyek drainase baru berjalan 30 persen,"` jelas Kutubkhanah.

Prosesi Haji Lancar
Sementara itu, meski sempat dikhawatirkan terganggu hujan dan banjir, pelaksanaan rukun ibadah haji paling pokok, wukuf, yang dilakukan 3 juta jamaah dari seluruh dunia sebagai rangkaian ritual ibadah haji tahun ini berlangsung lancar. Justru hujan deras yang sempat mengguyur sehari sebelum wukuf menjadi berkah tersendiri.

Guyuran hujan yang sempat membasahi tenda-tenda dan karpet membuat suasana di Arafah menjadi sejuk. Dalam tenda masing-masing, jamaah haji Indonesia mengoptimal kan waktu wukuf dengan berzikir, berdoa, membaca Alquran, dan mengikuti tausiah yang dibawakan para pembimbing rohani. Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Ali Mustafa Yaqub dalam tausiahnya di Arafah mengimbau jamaah untuk lebih mengutamakan ibadah sosial, selain ibadah individual.

"Sepanjang hidupnya Nabi Muhammad memiliki tiga kesempatan berhaji dan ratusan bahkan ribuan kesempatan untuk melakukan umrah. Namun dalam hidupnya beliau hanya berhaji sekali dan berumrah sunah dua kali saja. Beliau lebih banyak menyantuni anak yatim dan fakir miskin," ujarnya. Selain berdoa dan mengikuti tausiah dalam tenda, sebagian jamaah memilih duduk bermunajat di luar tenda.

Banyak jamaah saat memanjatkan doa dan zikir meneteskan air mata. Selain menempati tenda dan ruang-ruang terbuka sekitarnya, tidak sedikit jamaah yang mendaki bukit-bukit batu sekitar Arafah dan berdoa di sana. Bukit Jabal Rahmah dari kejauhan tampak memutih oleh jamaah yang menyemut di atasnya. Selama di Arafah,jamaah mendapatkan konsumsi dengan sistem prasmanan.

Satu meja makan diperuntukkan bagi sekitar 350 jamaah. Antrean yang diatur per rombongan (per 45 jamaah) bisa berjalan tertib. Saat waktu magrib yang menandakan waktu wukuf telah berakhir, sebagian besar jamaah saling bersalaman dan berpelukan. Wukuf yang merupakan ritual utama ibadah haji telah dilalui dengan lancar. Selepas menunaikan salat magrib dan isya dalam satu waktu (jamak qasar), jamaah secara bergantian diangkut dengan bus-bus menuju Muzdalifah yang berjarak 9 km dari Arafah.

Bus berjalan bolak-balik Arafah-Muzdalifah hingga semua jamaah terangkut. Di Muzdalifah, sekitar 201.000 jamaah asal Indonesia menempati area yang telah diperuntukkan bagi Indonesia. Beralas tikar dan alas-alas plastik yang mereka bawa, jamaah menjalani prosesi mabit (singgah) hingga lewat tengah malam. Jamaah juga mengumpulkan kerikil-kerikil untuk lempar jumrah di Mina.

Selepas pukul 24.00, jamaah kembali diangkut dengan bus menuju Mina. Setelah menaruh barang bawaan di tenda masing-masing, jamaah berjalan menuju tempat lempar jumrah. Sebagian jamaah memilih berjalan kaki dari Muzdalifah menuju Mina. Jarak Muzdalifah-Mina yang sekitar 7 km tidak terasa karena kondisi cuaca yang sejuk ditambah dengan pergerakan jutaan jamaah dari negara lain laksana aliran sungai menuju muaranya.

Di jamarat, lempar jumrah juga berjalan lancar. Bangunan jamarat yang terdiri dari lima lantai terlihat megah diterangi lampu-lampu berkekuatan megawatt. Tangga-tangga berjalan (eskalator) di tiap pintu-pintu masuk membuat jamaah mudah mencapai tugu jamarat. Dengan kerikil-kerikil yang dibawa dari Muzdalifah, jamaah tujuh kali melakukan lemparan di tugu jumrah aqabah tanpa antre berdesak-desakan.

Seusai lempar jumrah, para jamaah berdoa sejenak, kemudian memotong beberapa helai rambut (tahalul) yang menandakan mereka kini sudah bisa terlepas dari sejumlah larangan dalam berihram. "Alhamdulillah," ucap para jamaah. Selanjutnya, sebagian jamaah kembali ke tenda masing-masing di Mina dan sebagian lagi memilih langsung menuju Masjidilharam untuk melakukan prosesi tawaf ifadah dan sai.

Meski jarak jamarat dengan Masjidilharam sekitar 7 km, sebagian jamaah memilih berjalan kaki mengingat kondisi jalan dari Mina ke Masjidilharam macet total. Adapun cuaca Kota Mekkah, Jumat (27/11/2009), relatif sejuk karena matahari tidak menampakkan sinarnya. (arbn/sm)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.